JAKARTA -- Satu lagi partai berbasis Islam berdiri. Para deklaratornya
memberi nama Partai Keadilan, dan lambangnya adalah Ka'bah yang
didalamnya terdapat dua bulan sabit di antara garis tegak. Janji mereka
adalah menegakkan keadilan.
''Karena keadilan itu merupakan sunnah kauniyah yang bisa membuka jalan
bagi nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kebahagian, sehingga
diharapkan dengan menegakkan keadilan bangsa Indonesia bisa lebih baik
lagi di masa depan,'' ungkap Presiden Partai Keadilan Dr Ir Nur Mahmudi
Ismail, MSc kepada pers, kemarin.
Meski nama pemimpinnya belum populer bagi kalangan kebanyakan, sekitar
50 ribu massa hadir dalam deklarasi Partai Keadilan di Masjid Al Azhar,
Ahad kemarin. Halaman masjid yang cukup luas tak mampu menampung massa
yang hadir, sehingga massa pun meruah di Jl Sisinga Mangaraja.
Massa yang hadir itu antara lain dari berbagai kota di Jabar, Jateng,
Jatim, Medan, dan sebagian Lampung. Mereka sengaja menyewa belasan
angkutan umum, dan bus untuk bisa menghadiri peristiwa akbar tersebut.
Selain deklarasi Partai dan orasi, acara juga diselingi dengan pembacaan
puisi yang dibacakan oleh Cherul Umam. Bahkan panitia sempat
menampilkan teater yang menggambarkan kasus kekerasan di Aceh, dan
krisis yang melanda bangsa Indonesia akhir-akhir ini.
Lahirnya Partai Keadilan, menurut Mahmudi, bukanlah muncul secara
tiba-tiba, tapi telah memiliki akar historis dan ideologi yang panjang.
Sebenarnya partai ini telah didirikan sejak 20 Juli 1998 lalu, tapi baru
kali ini dideklarasikan.
Selama dua bulan sebelum partai ini dideklarasikan, para pengurus partai
memang telah bekerja keras melakukan konsolidasi di berbagai wilayah,
bahkan sampai ke luar negeri. Mereka mengaku telah mendapat simpatisan
dari berbagai wilayah, dan pendukung, baik di kalangan pesantren, ormas,
maupun golongan masyarakat. Oleh karenanya hingga saat ini, Partai
Keadilan telah berhasil menjaring massa di 21 cabang daerah tingkat II
dan di 21 provinsi.
Akhir Agustus nanti Partai Keadilan akan melakukan musyawarah nasional.
Setelah Munas itulah akan didaftarkan ke Depdagri dan sosialisi program
partai.
Presiden Partai Keadilan, Nur Mahmudi saat ini adalah karyawan di BPPT.
''Walaupun selama ini saya bekerja di BPPT, tapi bukan berarti ini
partai rekayasa dari Habibie,'' tegasnya. Bahkan ia siap mengkritik
Presiden Habibie bila perlu. ''Tapi mengkritik tidak harus berkoar-koar.
Mereka akan melakukannya dengan cara sendiri,'' ujarnya.
Para pendukung Partai Keadilan lainnya adalah kaum intelektual, seperti
Fahri Hamzah, SE (Ketua Komite Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia/KAMMI),
Igo Ilham Ak (pemeran film Fatahillah), Dr Salim Segaf Aljufri, MA, dan
Dr M Hidayat Nurwahid, MA.
Menurut Fahri Hamzah kehadiran partai ini bukan saja untuk umat Islam,
tapi terbuka untuk umum. Para tokoh Islamnya pun, kata Fahri, dari
berbagai aliran, ada Muhammadiyah, Persis, NU, dan lainnya. ''Awalnya
kami mencoba untuk menggali ke dalam satu partai. Akhirnya terbentukalah
Partai Keadilan ini,'' ujar Fahri.
Fahri tak memungkiri bahwa basis partai ini adalah kalangan kampus,
yaitu mahasiswa dan para pemuda. Sedangkan para pengurusnya merupakan
personel baru yang selama ini tidak pernah tampil baik di masa Orba,
apalagi Orla.
''Jadi mereka itu murni orang-orang baru, yaitu dari kelompok muda yang
akar historisnya memang belum bisa dicarikan. Mereka itu sebelumnya
tidak ada yang ikut di Golkar, PPP, maupun PDI, apalagi PKI,'' kata
Fahri.
Sebagai Ketua KAMMI Fahri membantah jika kehadirannya di Partai Keadilan
ini ikut juga menggeret massa dari KAMMI. ''Biarlah publik kampanye
yang menjelaskan kepada mereka siapa yang akan dipilihnya. Kalau saya
menggiring massa dari KAMMI untuk ikut ke Partai Keadilan, berarti saya
kerdil karena tidak membiarkan publik untuk mengkampanyekan partai
ini,'' tegas Fahri yang masuk Partai Keadilan karena keinginan pribadi.
Diakui Fahri bahwa dia telah ditawrai duduk sebagai Koordinator
Departemen Kemahasiswaan di Partai Amanah Bangsa (PAB), tapi ditolaknya.
''Saya sudah minta izin kepada Amien Rais (Ketua PAB), dan beliau
mengizinkannya,'' kata Fahri.
Ketika ditanyakan kemungkinan akan berkoalisi dengan Partai milik Amien
Rais, menurut Fahri, hal itu belum terpikirkan. ''Kemungkinan itu ada.
Tapi belum terpikirkan. Lihat saja nanti,'' ujarnya.
vie
*Republika, 10 Aug 1998/http://abdulhalim.tripod.com